Dalam menentukan awal musim kemarau dilakukan dengan perhitungan statistik dimana jumlah curah hujan dalam satu dasarian (10 hari) kurang dari 50 milimeter dan diikuti oleh 2 (dua) dasarian berikutnya.
Jumlah curah hujan kurang dari 50 mm bukan berarti tidak ada hujan walaupun dalam dasarian berikutnya tetap kurang dari 50 mm. Hal ini menunjukan bahwa peluang hujan masih tetap saja bisa terjadi asalkan jumlah dalam dasarian kurang dari 50 mm.
Misalkan jumlah curah hujan 45 mm dalam 10 hari atau satu dasarian.
- Jika hujan terjadi setiap hari dan dianggap merata jumlahnya berarti dalam satu hari (24 jam) jumlah curah hujan mencapai 4,5 mm. Menurut klasifikasi curah hujan harian, hujan kurang dari 5 mm masuk kategori hujan sangat ringan.
- Jika dalam 10 hari hanya terjadi hujan 3 kali hari hujan dan dianggap merata jumlahnya berarti mencapai 15 mm per hari dan masuk dalam ketegori hujan ringan.
- Jika dalam 10 hari hanya terjadi hujan 2 kali hari hujan dan dianggap merata jumlahnya berarti mencapai 22,5 mm per hari dan masuk dalam ketegori hujan sedang Bahkan jika terjadi dalam kurun waktu 1 jam masuk kategori hujan lebat.
Klasifikasi hujan harian
- Sangat ringan (kurang dari 5 mm per 24 jam)
- Ringan (5-20 mm per 24 jam)
- Sedang (21-50 mm per 24 jam)
- Lebat (51-100 mm per 24 jam)
- Sangat Lebat (lebih dari 100 mm per 24 jam)
Klasifikasi hujan per-jam
- Sangat ringan (kurang dari 1 mm per jam)
- Ringan (1-5 mm per jam)
- Sedang (5-10 mm per jam)
- Lebat (10-20 mm per jam)
- Sangat Lebat (lebih dari 20 mm per jam)
Musim kemarau bukan berarti tidak ada hujan sama sekali bahkan jika dilihat dari klasifikasi hujan harian maupun hujan per jam bisa saja terjadi hujan dengan dengan intensitas ringan hingga lebat. Hal ini perlu di pahami oleh masyarakat terutama para petani agar tidak terjadi kegagalan dalam bercocok tanam. Karena dapat mempengaruhi pola tanam padi, ancaman serangan hama, dan penyakit tanaman.