Negara Kepulauan Indonesia dan Fenomena Monsoon

admin

Semula banyak orang beranggapan bahwa Benua maritim indonesia (BMI) merupakan negara kepulauan yang terdiri dari lima pulau besar, masing-masing Pulau Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Papua, dan lebih dari 17.000 pulau kecil yang tersebar bagai zamrud permata dari Sabang hingga Merauke.
Ramage (1968 dan 1971) menamakan Indonesia sebagai satu-satunya kawasan unik di ekuator dengan nama Indonesian Maritime Continent. Hal ini mudah di pahami bahwa Indonesia adalah  negara yang 2/3 bagian wilayahnya didominasi oleh laut, dan sisanya didominasi oleh daratan. Memiliki garis pantai yang relatif panjang, yakni sekitar 54.716 km atau nomor dua setelah Kanada (Kanada memiliki garis pantai sepanjang kurang lebih 202.080 km) (Resa, 2011), yang mengelilingi lebih dari 17.000 pulau, baik besar maupun kecil dengan distribusi daratan yang beragam atau acak (random). 
Kawasan laut menghasilkan konveksi skala besar, didukung oleh pulau-pulau yang kecil yang memberi sumbangsih besar pula terhadap konveksi lokal. Sehingga mampu memicu terjadinya sirkulasi angin laut (dikenal dengan istilah sea breeze circulation). Dapat dikatakan bahwa kawasan Indonesia memiliki aktivitas kuat konveksi, minimal untuk kawasan ekuator yang dicirikan dengan terbentuknya kumpulan awan-awan konvektive  hingga mencapai lapisan tropopause. 
Letak Indonesia di antara 6 derajat LU hingga 11derajat LS menyebabkan kawasan ini memiliki pengaruh gaya Coriolies (Coriolies Force) relatif kecil. Akibatnya, walaupun memiliki garis ekuator yang relatif panjang (sekitar 1/8 bagian dari bola dunia), yakni 90 derajat BT hingga 145 derajat BT, kawasan ini hampir relatif bebas dari bahaya angin badai topan (thunderstorm) sepanjang tahunnya.
Fenomena monsun sebenarnya tidaklah jauh beda dengan fenomena sirkulasi angin laut hanya berbeda pada skala waktu dan ruang saja. Jika fenomena angin laut relatif berskala kecil, yakni antara darat dan laut saja fenomena monsun melibatkan benua dan samudra. Tidak hanya melibatkan faktor curah hujan semata, melainkan juga faktor arah dan kecepatan angin sebagai parameter utamanya, terutama perilaku angin di lapisan 200 dan 850 hPa (sekitar 11,7 km dan 1,5 km di atas permukaan laut, dpl) sesuai dengan konsep dasar definisi monsun yang dikeluarkan oleh Badan Meteorologi Dunia yang dikenal dengan namaWorld Meteorological Organization (WMO).
Monsun tidak selamanya berjalan normal, ada kalanya saling menguatkan, namun kadang pula saling melemahkan. Monsun tidaklah berdiri sendiri, melainkan saling berinteraksi antara monsun satu dengan monsun lainnya, dikenal dengan istilah interkoneksi atau interaksi atau telekoneksi, seperti digambarkan oleh Wang and Zhang (2002) dan Wang dkk. (2000 dan 2003a, dan 2003b). Tidak hanya terbatas kepada interkoneksi sesama monsun, melainkan juga antara monsun dan Dipole Mode atau antara monsun dan El-Niño seperti yang pernah penulis lakukan (Webster and Yang, 1992; Wang dkk., 2000; Wu and Wang, 2002; dan Hermawan dan Edwuard, 2013). Kejadian musim kemarau panjang yang alami di tahun 1982/83 dan juga 1997/98 merupakan bukti nyata bahwa monsun telah terusik dari kondisi normalnya (Wang dkk., 2001 dan 2008).

Bagikan:

Tags

Leave a Comment